Muhammad Sirod,  November 07, 2018

Disampaikan di Telegroup Klub Buku dan Manajemen Bisnis

Bismillahirahmanirahim.

Saya ingin bercerita mengenai kegiatan Saya seharian penuh di rakercab Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Dewan Pengurus Cabang Jakarta Pusat. Sebelumnya perkenalkan bahwa saya adalah pengusaha yang tergolong pemula karena secara legal, bisnis Saya sebenarnya baru dimulai pada September 2016 yang berarti baru 2 tahun yang lalu. Secara teori, Saya nothing banget dalam bisnis. Tidak punya rekam jejak yang pantas dibanggakan karena untuk pembiayaan lewat perbankan pun bahkan beberapa bank masih menolak kami.

Selama 13 tahun Saya bekerja di industri, sebagian besar sebagai sales dan business development, 8 tahun di antaranya berada dalam bidang infrastruktur tepatnya di water industry. Secara pemahaman, sepertinya cukup pantas untuk membuat perusahaan sendiri, begitu pikir saya pada 4 tahun lalu saat berbicara pada boss saya untuk mempersiapkan resignation dari perusahaan terakhir tempat saya berkarir profesional.

Sebagai startup company, ternyata kami sangat membutuhkan akselerasi dalam dunia bisnis. Saya membutuhkan lingkungan pertemanan dan jejaring yang mampu mempercepat kapitalisasi bisnis. Untuk itu, peran komunitas bisnis atau asosiasi sangat signifikan untuk perkembangan skillset yg saya miliki.

Alhamdulillah, dengan algoritma Tuhan yang sangat canggih, Saya bertemu dengan komunitas bisnis bernama komunitas Tangan Di Atas (TDA). TDA merupakan organisasi pertama dalam memacu untuk keluar dari pekerjaan dan membangun bisnis dengan cara nyambi pada awalnya, istilah ini dikenal dengan sebutan amfibi. Status amfibiers di TDA bukanlah status yg terhormat, anda akan dipacu untuk benar-benar 100% melepas pekerjaan Anda untuk menjadi full time entrepreneurs.

Seiring berjalannya waktu setelah mendapatkan beberapa pekerjaan kecil di bidang water treatment khususnya filter air untuk rumahan di akhir pekan, saya akhirnya memutuskan membangun sebuah Perseroan Terbatas (PT) kepada seorang biro jasa. Ia mengurus mengurus semua detail dokumen legal dan registrasi kelembagaannya. Dari mulai SK kehakiman hingga Surat Pengukuhan Kena Pajak atau SPKP. Sayangnya, orang yang diberi amanah untuk mengerjakan pekerjaan tersebut ternyata seseorang yang kurang bertanggung jawab dan menghasilkan dokumen-dokumen bodong, lumayan 15 juta raib dari tabungan saya justru ketika saya baru mulai memb angun legalitas bisnis, sesuatu yg krusial sekali.

Sadar saya ditipu, saya langsung meminta kepada biro jasa itu untuk memperkenalkan saya kepada Notaris yang menjadi pelanggannya. Alhamdulillah dari notaris itu  dalam jangka 2 tahun berikutnya Saya membangun nama PT baru yang mirip dengan PT Saya yang gagal itu, jadilah PT Arus Tirta Niagatama perusahaan pertama saya. Perusahaan inilah yg kemudian terdaftar di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya atau HIPMI Jaya dan alhamdulillah pada tahun 2016 Saya diterima sebagai anggota HIPMI Jaya pada usia 38 tahun.

Bersama rekan-rekan HIPMI JAYA angkatan 2016

HIPMI adalah organisasi pengkaderan yang membatasi usia maksimal anggotanya maksimal pada 41 tahun. Walau dianggap telat, saya bersyukur bisa bergabung dengan HIPMI.  Walaupun artinya sudah tidak banyak lagi waktu untuk berkolaborasi dan bersinergi dengan teman-teman dikarenakan sebagai anggota aktif karena sebentar lagi usia saya sudah memasuki batas maksimal keanggotaan. Namun, saya tidak patah arang, saya mengikuti pesan dari Ketum kami yaitu ketum Afi Kalla bahwa seseorang yang masuk HIPMI itu ada beberapa latar belakang tujuan atau motif, yaitu alasan semata-mata memang untuk pengembangan bisnis, alasan/motif politik (membangun jejaring politik atau menjadi politisi) dan ada juga yang kemudian justru hidup di HIPMI (menjadi partner yg saling menguntungkan dengan organisasi HIPMI).

Saya menemukan banyak sekali pemahaman baru, keilmuan baru dan pertemanan baru yang sangat berdampak pada laju bisnis dan pengembangan diri saya di HIPMI.  Di sini banyak anak-anak muda yang rata-rata bisnisnya di bidang industri kreatif atau di industri seperti infrastruktur tetapi dijalankan dengan cara yang sangat kreatif.

Saya beruntung dianggap senior di HIPMI karena usia, walau secara organisasi termasuk baru, sehingga rekan-rekan HIPMI seangkatan sering memanggil sebutan “bang” atau “kang” karena memang rata-rata usia mereka jauh lebih muda. Padahal, bisnis mereka jauh lebih establish dan lebih mapan dibanding saya.

Ada tiga orang kawan di HIPMI yang berasal dari satu perusahaan yg sama yang mereka bentuk dari sejak kuliah. Ketiganya adalah founder bisnis yang artinya tercatat dalam akte perusahaan dan menjadi syarat keanggotaan di HIPMI JAYA.

Ada pula seorang kawan di HIPMI JAYA, dulunya saat kuliah di luar negeri rajin menulis buku kemudian pulang dan membangun perusahaan bisnisnya sendiri. Memadukan antara skill set yang dia punya seperti public speaking, entrepreneurship dan finance dengan membangun perusahaan di bidang fintech syariah yang kekinian banget dan rajin menjadi pembicara publik pada topik-topik kewirausahaan di negeri ini.

Satu lagi ada kawan yg datang dari kalangan pekerja seperti saya, kebetulan pula usianya tak berbeda jauh (termasuk golongan 3T di HIPMI: Tau Tau Tua). Dia membangun bisnis benar-benar dari bawah dengan determinasi tinggi, buat saya dia sangat menginspirasi sampai-sampai Saya menetapkan diri Saya sebagai konsultan seumur hidup bagi bisnisnya, saya gak main-main karena buat saya sosok pebisnis harusnya seperti beliau itu. Optimisme tinggi, punya skill set atau keahlian tertentu kemudian bisa berkontribusi untuk komunitas. Salah satu project dengan dia ini adalah ketika kami duduk bareng di kantornya dan membayangkan bisnisnya 15 sampai 20 tahun yang akan datang bisnisnya menggurita seperti Chairul Tanjung saat ini. CT adalah contoh figur pengusaha yang berangkat dari bawah dan selalu cerdas menempatkan diri dalam pusaran ketidakpastian, baik ekonomi maupun politik.

Masih banyak cerita inspiratif unik dan membuat kita tergerak untuk berbuat lebih banyak, berkontribusi untuk orang lain dan orang-orang yang kita Sayangi sebagai niatan utama kita berbisnis. Tak sedikit di antara kawan-kawan saya ini berbisnis mengkapitalisasi perusahaan milik keluarganya, artinya mereka merupakan generasi kedua atau ketiga. Sebuah family business yang umunya berhasil menjadi perusahaan besar di negeri ini, sebutlah Indofood / Salim Group dan Djarum. Generasi penerus ini harus memutuskan banyak kebijakan bisnis bersama dengan anggota keluarga yg lain. Ada yg fokus di penjualan dan marketing dan ada juga yg lebih memilih membangun back-end perusahaannya.  Mereka menjadikan HIPMI sebagai learning community baginya.

Saya mengamati begitu banyak talenta-talenta muda anak-anak bangsa yang berjibaku dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan mereka dan menghadapinya dengan fun dan easy going. It’s millenial style, even though I am a generation of xennials or called lately millenials, I still feel “tired” following their powerful actions and full of passion.

Begitulah HIPMI Jaya yang Saya kenal. Bila kawan-kawan ingin masuk kepada organisasi ini, silakan ke bit.ly/rekrutmenthipmijaya. Percayalah, jika anda diminta uang untuk pendaftaran itu tidak seberapa dengan benefit yang akan didapatkan. Sekali masuk HIPMI maka seumur hidup anda akan menjadi keluarga HIPMI walaupun usia anda akan bertambah dan melewati batas anggota aktif. Tetapi Ini adalah sebuah keluarga yang sangat heterogen yang sangat menarik bagi kita untuk membangun jejaring dan skill set sejak muda.

Dalam seminggu terakhir ini Saya mencoba membantu 1 organisasi bisnis lagi yang bernama Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) untuk daerah Jakarta Raya yang diketuai oleh Bang Sarman Simanjorang. Beliau adalah senior di HIPMI seangkatan Bang Sandiaga Uno. Selain Bang Sarman, ada Kang Erik Hidayat yg tahun lalu berkarya dengan memproduseri sebuah film sarat nilai budaya berjudul Rocker Balik Kampung.

Bersama rekan-rekan HIPPI DPC Jakarta Pusat

Saya diajak oleh salah satu ketua DPC (Dewan Pengurus Cabang) HIPPI Jakarta yaitu Mas Aldi Prasetianto yang juga merupakan Kawan satu angkatan Saya di HIPMI Jaya, tepatnya di HIPMI Jaktim yang dipimpin Mas Andre Tirtoadji. Hal yang menarik dan membuat Saya ingin bergabung adalah di HIPPI Jaya tidak membatasi batas usia dalam keanggotaan sehingga ini menambah kesempatan kepada Saya yang pada Oktober kemarin 40 tahun untuk bisa berorganisasi dan bersinergi lagi dalam komunitas bisnis yang mungkin cocok ekosistemnya dengan yang butuhkan. Kecepatan informasi via jejaring media sosial memungkinkan saya dapat mengikuti sebanyak mungkin organisasi dan memilih kegiatan yang cocok dengan kebutuhan saya. Tinggal sinergikan waktu, dan kalau bisa juga berkontribusi positif terhadap organisasi semaksimal mungkin.

Yang menarik dari HIPPI Jaya adalah banyak anggota terutama untuk DPC Jakarta Pusat berasal dari organisasi kepemudaan dan komunitas bisnis yang sudah establish seperti HIPMI, OK OCE, AMPI, KNPI serta organisasi lainnya. Hal ini sangat menarik saya karena sebenarnya saya justru menjadi seorang aktivis dulu sebelum terjun penuh pada bisnis. Walau, tentunya aktivisme saya juga gak terlalu dapat dibanggakan karena saya bukan tipikal pencari jabatan dalam sebuah organisasi. Saya senang berkontribusi dalam kegiatan atau event, tapi malas repot dalam jabatan, hal ini sebenarnya kekeliruan juga, dikarenakan semakin bertambah usia kita, baiknya kita lebih banyak berfikir strategis bukan hanya “sekedar” taktis dan teknis lagi.

Hal yang paling penting dalam berorganisasi adalah kita mendapatkan benefit seperti jaringan, akses bisnis, akses politik dan kemewahan lainnya yang sulit didapatkan jika kita hanya terpaku pada urusan skup kecil bisnis kita saja. Mindset “pengusaha pejuang dan pejuang pengusaha” di HIPMI misalnya, sangat membekas di diri saya karena itu merupakan brand DNA dari seorang aktivis pebisnis dan pebisnis yg aktivis. Jika kita memiliki kelebihan dalam hal: uang; waktu; ilmu atau skill set, kita dapat berbagi kepada organisasi atau komunitas sehingga menguatkan jejaring yg kita masuki tersebut, selain itu kita juga menjadi bertambah mahir dikarenakan kita memakai komptensi tersebut.

Tentunya sebuah organisasi memiliki gaya/style, bentuk, tujuan, hirarki dan culture berbeda untuk mencapai visi misi yang berbeda-beda pula. Tetapi biasanya sebuah organisasi atau komunitas entrepreneur memiliki kemiripan pola kerja dan perekrutan. Sehingga acapkali antara organisasi itu juga berkompetisi dalam menjalankan visi misinya dan terkadang dalam berkompetisi tersebut selalu saja ada singgungan persaingan bahkan sifat iri dan dengki yang dapat merusak cita-cita mulia dan kontraproduktif terhadap tujuan awal organisasi itu dibentuk.

Untuk itu penting sekali bagi sebuah member dalam organisasi untuk menghilangkan sifat ashobiyah atau chauvinisme atau fanatisme kelompok yang berlebihan yang dapat merusak sendi-sendi silaturahmi antar organisasi kompetisi. Hal tersebut diperlukan untuk menyehatkan pergerakan dan output atau keluaran positif dari pergerakan. Tanpa sikap kesadaran positif yang kolektif, sulit sebuah organisasi akan berkembang dan bersanding satu sama lain demi kejayaan negeri ini.

Bersaing antar organisasi dan komunitas itu sehat dalam dosis yang tepat, memperkuat pula dalam konsep yg tepat. Berkompetisi bukanlah bertujuan untuk saling sikut dan saling sikat sehingga mempersempit laju gerak setiap organisasi tersebut. Kita patut bangga bila menjadi bagian dalam organisasi yang kita masuki bahkan jika kita masuk dalam pengurus inti dan mungkin bahkan pimpinan dalam struktur organisasi yang kita masuki.

Amanah atau jabatan yang kita terima tersebut pada hakekatnya sebenarnya bukanlah sebuah kebanggaan yang harus kita kejar tetapi hanyalah sebuah alat dari tujuan mulia yang kita cita-citakan bersama. Mari kita bersinergi, berkumpul, berbincang, bertemu, berinteraksi satu sama lain sembari berkompetisi secara sehat. Kita bersaing untuk bersanding..

Bangsa ini membutuhkan banyak pemersatu. Orang-orang yang mempersatukan adalah orang-orang yang menjahit hubungan, yang mengkoneksikan satu kepentingan-kepentingan yang terserak agar ada dalam hasil akhir yang win win solution atau keberkahan bersama.