BEDA ANTARA SENIMAN DAN PROFESIONAL/AHLI/PENGUSAHA

/, leadership, mindset, sales, skillset/BEDA ANTARA SENIMAN DAN PROFESIONAL/AHLI/PENGUSAHA

BEDA ANTARA SENIMAN DAN PROFESIONAL/AHLI/PENGUSAHA

Pernah dengar istilah perfectionist? artinya orang yang ingin segala sesuatunya sempurna, sedetil-detilnya. Setelah kita mengikuti satu pelatihan satu skillset (keterampilan) tertentu, kita cenderung mengikuti guidelines dari pelatihan tersebut dan ingin sekali sempurna mengerjakannya tanpa kekurangan satu apapun.

Mengikuti kesempurnaan karya sehingga menjadi masterpiece! itu yang dimaksud menjadi seorang seniman. Walaupun tentunya ada seniman produktif dan tidak, ada seniman sukses dan malas, tapi saya ingin sedikit memberi pembeda antara seniman idealis tersebut dengan kalangan pebisnis / profesional atau ahli. Kita ambil titik ekstrim, bahwa seniman yang dimaksud di sini adalah seseorang yang sangat idealis, sangat mementingkan kesempurnaan dalam berkarya.

Setiap pengusaha muda yang saya kenal biasanya memiliki beberapa skillset (keterampilan) dalam bisnis, misalnya kemampuan desain grafis, kemampuan manajemen proyek, copywriting atau handal dalam mengelola media sosial untuk personal branding. Problemnya adalah pengusaha bukan hanya seseorang yang dibayar karena memiliki high income skill saja, tetapi dia menggunakan tim untuk menghasilkan karya-karya atau produk-produk yang dapat dihargai pasar. Jadi terkadang, dia tidak akan mahir dalam satu bidang tetapi akan melengkapi keahlian tersebut oleh tim yang ia bangun. Atau ia berkolaborasi dengan orang lain yang dipercaya punya reputasi dalam skillset tersebut. Di sinilah bagian penting bahwa menjadi pengusaha, anda tidak dituntut menjadi ahli di satu bidang saja, karena anda tinggal merekrut orang yang ahli dan membayarnya dengan harga yang pantas.

Misalnya dalam kemampuan project management yang saya kuasai, menurut teori dari Project Management Insitute (PMI) mungkin saya tidak ada apa-apanya. Tetapi saya mengukur bahwa untuk mengerjakan proyek-proyek water treatment dengan jangka waktu 3-6 bulan, budget antara 10jt s.d. 10 milyard misalnya, saya anggap saya menguasai dan mampu mengerjakannya. Tinggal “market” mau menerima saya atau tidak, dan apakah resiko yang saya hadapi jika terjadi kesalahan (failure) selama saya memimpin dan mengelola proyek tersebut. Menjadi seorang profesional/pengusaha di bidang ini, tidak perlu menunggu mendapatkan PMI Certified, saya terus saja mengerjakan proyek-proyek tersebut selagi market mau menerima saya, karena saya bukan seniman proyek. Faham maksdunya kan?

By |2019-11-01T00:51:53+00:001 November 2019|entrepreneurial, leadership, mindset, sales, skillset|0 Comments

About the Author:

Muhammad Sirod inisiator blog ini dan merepresentasikan keseluruhan konten blog, pengusaha, organisatoris, suami dan ayah dari 3 orang anak.

Leave A Comment