“JANGAN PAKAI POWER, ROD”

/, entrepreneurial, leadership, mindset/“JANGAN PAKAI POWER, ROD”

“JANGAN PAKAI POWER, ROD”

“Jangan pakai power, Rod” ini sebuah nasehat dari supervisor saya di sebuah perusahaan multinasional ketika saya membangun karir saya yang gagal di Industri FMCG. Gagal karena saya memutuskan tidak menekuninya, karena saya pasti gak akan betah bekerja sebagai sales produk pangan di jalur distribusi, gak menarik menurut saya saat itu, benar saja, setelah bekerja pada bidang sales/marketing yang tepat, saya bisa berkembang dengan lebih baik.

Lalu apa hubungannya kalimat “Jangan pakai power” itu? nanti kita bahas.

Pendeknya saya dipecat di perusahaan besar tsb, karena tidak achieve dan bertindak as Trainee Sales Supervisor yang tidak efektif. Dipecatnya saya ini berkah besar buat kehidupan saya ke depannya ternyata. Saya sampai selfie dengan HRD yang memecat saya (dan ternyata memang senior saya di IPB) untuk berterima kasih, karena pelajaran berharga dia ketika memberikan alasan-alasan dan menekan mental saya benar-benar kena banget. Itulah yang membuat saya lebih tough dalam menghadapi kehidupan berkarir dan berbisnis di kemudian hari sampai saat ini.

Saya pun sebagai pengusaha sudah 5x memecat karyawan saya sendiri, banyak faktor. Umumnya karena kinerja yang buruk, sementara 2 yang terakhir ya karena pandemi Covid19 ini. Sebagai lembaga usaha, kita tetap harus melakukan hal-hal yang sebenarnya cukup berat kita lakukan. Nasehat dari seorang ustadz saat kita mem-PHK karyawan karena situasi krisis seperti sekarang: “Jangan sombong kepada Allah, karena yang memberi rizki itu bukan kita, tapi Allah SWT, kita hanya diberi kesempatan jadi jalan saja. Kembalikan saja kepada Allah, biar rejekinya diatur oleh-Nya”. Saya pun melakukan prosedur dan adab yang baik saat mem-PHK mereka, karena punya landasan logis dan luhur jadinya.

Kembali ke topik utama, “Jangan pakai power” adalah cara berdiplomasi, memberi instruksi atau perintah dan arahan kepada tim dengan persuasif dan elegan, lawannya adalah “injek kaki” yang artinya menekan dan memporsir tim sales distributor yang kita handle dengan berlebihan. Kalimat yang indah secara diksi ini disampaikan dengan teladan yang baik oleh supervisor saya ini, sebagai trainee supervisor saya sangat bersyukur diberi kesempatan belajar kepada beliau dan kemudian nantinya sangat membekas dalam pikiran saya. Walau sikap “pakai power” itu terkadang masih ada, tapi nasehat membekas ini saya banyak terapkan di pelbagai keadaan.

Filosofi mengubah keadaan “laukna beunang, caina herang” pada prinsipnya mendorong berperilaku “jangan pakai power” tsb. Cara-cara memuliakan ini nantinya akan bermanfaaat kita membangun bisnis untuk jangka panjang, sesulit apapun keadaan yang kita ubah. Sikap memanusiakan / ngawongke ini harus terus menerus kita latih agar semakin memperhalus kita dalam berinteraksi dengan kolega bisnis kita.

 

By |2020-08-07T01:52:04+00:007 August 2020|business community, entrepreneurial, leadership, mindset|0 Comments

About the Author:

Muhammad Sirod inisiator blog ini dan merepresentasikan keseluruhan konten blog, pengusaha, organisatoris, suami dan ayah dari 3 orang anak.

Leave A Comment