Bergabung dan berpisah karena VISI

/, leadership, mindset, skillset/Bergabung dan berpisah karena VISI

Bergabung dan berpisah karena VISI

Hubungan pertemanan, bisnis atau pernikahan biasanya dilakukan atas dasar tujuan jangka panjang yang sama. Ikatannya akan bertambah erat jika ada pertalian yang “ngabukur” (bahasa Sunda: menghasilkan). Pertemanan menghasilkan keakraban, kehangatan lewat kehadiran saat dibutuhkan, dalam pernikahan kita mendapatkan imbal kasih sayang dan keturunan, sementara dalam bisnis tentu akses, pencapaian finansial dan power.

Dalam beberapa kesempatan partnership atau kerjasama bisnis, faktor VISI selalu menjadi alasan saya bertahan, berkembang atau berpisah dengan kolega bisnis. Karena VISI yang sama akan memudahkan kita mengambil strategi yang tepat, merekrut orang yang tepat dan mengkapitalisasinya dengan pola yang disepakati.

Menurut Pak Budi Isman dalam laman instagram-nya, godaan “salah strategi” menjadi pebisnis itu biasanya ada beberapa hal:

  • NAFSU UNTUK EKSPANSI
  • MEMBIAYAI USAHA DENGAN DANA MAHAL
  • DIVERSIFIKASI YANG TERLALU CEPAT
  • TIDAK CEPAT UNTUK “CUT LOSS”

Dari semua “penyakit” salah strategi tersebut, kita dan partner bisnis akan dihadapkan pada perdebatan panjang menentukan arah tujuan bisnis. Bila banyak visi yang tidak sejalan, maka baiknya tidak perlu berlama-lama berdiam diri, langsung tentukan seberapa jauh akan bersama dan harus ada yang “aware” dan melakukan “lead” atau “mengalah” agar partner kita bisa mencapai tujuan-tujuannya tsb.

Tanpa kesadaran untuk memahami perbedaan visi, kita tidak mungkin bersama dalam satu perahu dengan dua direction berbeda. Yang ada, kayuh yang kita dayung akan “berpoco-poco” ria sehingga sulit mencapai tujuan, lebih parah, perahu bisa karam karena “kelamaan” menentukan arah sehingga penumpang di dalamnya bisa saja “iseng” atau “stress” dan bingung musti mengikuti arah yang mana.

Menentukan kapan bergabung dan kapan berpisah adalah salah satu skill set pebisnis yang musti dilatih dengan baik. Rasa “ewuh pakewuh” “gak enak” atau “baper” musti dibuang jauh-jauh. Karena bergabung dan berpisah asal dengan cara-cara patut dan elegan adalah satu kenyataan yang harus dijalani.

 

By |2021-03-09T13:54:46+00:009 March 2021|business community, leadership, mindset, skillset|0 Comments

About the Author:

Muhammad Sirod inisiator blog ini dan merepresentasikan keseluruhan konten blog, pengusaha, organisatoris, suami dan ayah dari 3 orang anak.

Leave A Comment