One Man One Vote, dipilih karena selera rata-rata

/, mindset, national insight/One Man One Vote, dipilih karena selera rata-rata

One Man One Vote, dipilih karena selera rata-rata

Hari-hari ini kawan-kawan alumni dari kampus terkenal mengadakan pemira, pemilihan raya untuk ketua umum alumninya. Cara pemilihannya ultra modern: one man one vote, mirip-mirip pemilihan di sebuah negeri antah berantah yang punya desain canggih “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, barangkali rakyat negeri itu sekarang sudah tidak memahami dengan benar soal seleksi kepemimpinan dan pengambilan keputusan dengan cara musyawarah tersebut.

SELERA RATA-RATA

One oman one vote barangkali efektif jika keputusan yang diambil bukan hal-hal krusial, misalnya seorang ayah bertanya pada anggota keluarganya mengajak ingin makan di luar rumah, yang biasanya ia putuskan sendiri atau bersama ibunya anak-anak, kali ini ia mencoba lebih demokratis mempersilahkan anak-ananya turut serta mengambil keputusan. Makan di luar rumah bukan hal krusial, startegic atau mendasar dalam rumah tangga, jika keputusan “selera rata-rata” anak-anak mereka ternyata keliru, pun tidak merusak tatanan yang ada.

Berbeda misalnya jika keputusan jurusan kuliah si anak pertama ditentukan dengan suara terbanyak. Selain khawatir si anak tersebut tidak suka, itu akan menjerumuskan nasib seseorang ke depan karena orang lain yang justru tidak faham dan belum tentu mengerti potensi terbaik si anak yang tentunya ayah, ibu, dirinya dan mungkin psikolog lebih faham.

Begitu juga menurut saya, seorang pemimpin ikatan alumni perguruan tinggi, bahkan presiden kurang pas rasa-rasanya dipilih berdasarkan selera orang kebanyakan. Mengapa? ya karena setiap orang belum punya kapasitas mencukupi untuk melakukan kesadaran objektif dan subjektif memilih pemimpin. Walau tentunya, influencer-incluencer bisa turut serta mempengaruhi, tetap saja keputusan ada di ujung jemari para pemilihnya.

Bayangkan, seseorang yang baru lulus, gak pernah aktif, belum bekerja pula apalagi berkeluarga, bobot pilihannya sama dengan alumni senior yang malang melintang mengurus organisasi. Sangat-sangat tidak adil.

ULTRA LIBERAL

Model OMOV seperti ini memang sudah menggejala di kita sejak UUD 1945 dilakukan amandemen sehingga kita menjalani UUD versi 2002 seperti sekarang. Tapi apa mau dikata, karena ini sudah diputuskan secara sadar oleh para wakil rakyat, maka kita hanya bisa menerima dengan lapang dada. Tetapi, ada baiknya kita tetap mempertahankan model pemilihan perwakilan yang dilakukan anggota yang telah bijak bestari dalam seleksi kepemimpinan, sesuai arahan founding fathers kita.

Prosesnya akan lebih mudah, kolaboratif, menggali secara kritis setiap sisi keputusan yang ada dan memberikan ruang para cerdik cendekia untuk beropini dan mempengaruhi. Berbeda dengan sistem OMOV yang sebenarnya diadopsi dari cara marketing produk fast moving consumer goods via uji organoleptik (selera indra) dan selera umum /rata-rata yang diterapkan di Amerika Serikat pada sekitar tahun 60-an. Pola ini sebenarnya lebih menguntungkan mereka yang memiliki mesin media (konvensional maupun digital), kuat di pencitraan (menjadi sosok yang diberhalakan) dan jelas gelontoran uang.

CONTOH KONKRIT

Himpunan Alumni IPB, BPP HIPMI adalah dua dari banyak organisasi yang saya masuki yang menyeleksi kepemimpinannya dengan cara musyawarah mufakat mendahulu voting. Bahkan voters punya punya kriteria khusus tidak sembarang orang bisa memilih. Walau demikian, pemira di kedua lembaga tersebut tidak menjadi sepi dan kalah menarik.

Namanya kontestasi yang mempengaruhi nasib banyak orang pasti akan menarik minat setiap individu yang terkait untuk datang atau sekedar menonton. Para voters akan menjadi “gadis cantik” yang didatangi untuk diminta pendapat dan opininya. Hal ini menjadi ajang “pendidikan politik” yang baik pada mereka-mereka yang tertarik menjadi anggota organisasi tersebut atau masuk dalam level pemilih. “Harga” yang “dibayar” oleh para anggota untuk masuk dalam lingkaran itu, akan mereka ukur, sepadan atau tidak dengan “pride” yang mereka dapatnya.

Akan halnya Omov, sedikit berbeda karena setiap orang lebih mudah mendapatkan suara dan itu pun tidak signifikan. Beberapa kali saya perhatikan, para voters yang demografinya sangat lebar sangat terganggu dengan model pemilihan digital yang merepotkan bahkan setiap pemira harus registrasi berulang, kuno! Inginnya kelihatan modern tapi faktanya gak punya sistem basis data handal dan terkelola.

Tulisan soal ini sebenarnya bukan kali ini saja saya ikut beropini, ada beberapa tulisan lawas bahkan sejak saya masih menyandang status mahasiswa di kampus rakyat, ada pula yang merupakan kutipan sarat makna, berikut silahkan dibaca:

By |2021-03-15T00:15:58+00:0014 March 2021|leadership, mindset, national insight|0 Comments

About the Author:

Muhammad Sirod inisiator blog ini dan merepresentasikan keseluruhan konten blog, pengusaha, organisatoris, suami dan ayah dari 3 orang anak.

Leave A Comment